Pengaruh Infusa Jahe Merah (Zingiber officinale var. Rubrum) terhadap Pertumbuhan Bakteri Streptococcus mutans

Penulis

  • Yogi Rahman Nugraha Program Studi Diploma Farmasi, Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Karsa Husada, Garut, Jawa Barat, Indonesia
  • Aulia Rohdiana Program Studi Diploma III Farmasi, STIKes Karsa Husada Garut, Garut, Indonesia
  • Nurul Program Studi Diploma Farmasi, Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Karsa Husada, Garut, Jawa Barat, Indonesia
  • Diah Wardani Program Studi Diploma Farmasi, Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Karsa Husada, Garut, Jawa Barat, Indonesia

DOI:

https://doi.org/10.33482/jmedfarm.v2i3.74

Kata Kunci:

Jahe merah, Streptococcus mutans, Karies gigi

Abstrak

Infeksi rongga mulut, khususnya karies gigi akibat Streptococcus mutans, masih menjadi masalah kesehatan masyarakat di Indonesia. Terapi dengan antibiotik modern sering menimbulkan efek samping dan resistensi, sehingga diperlukan alternatif herbal. Jahe merah diketahui mengandung flavonoid, fenol, gingerol, shogaol, dan minyak atsiri yang bersifat antibakteri. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi daya hambat infusa jahe merah terhadap pertumbuhan S. mutans menggunakan desain Posttest Control Group dengan metode difusi cakram. Perlakuan terdiri dari kontrol negatif, kontrol positif (ciprofloxacin), serta infusa jahe merah 10%, 20%, dan 40%. Hasil menunjukkan peningkatan diameter zona hambat seiring kenaikan konsentrasi. Kontrol negatif tidak menghasilkan hambatan, kontrol positif menghasilkan 45,05 mm, sedangkan infusa jahe merah 10%, 20%, dan 40% masing-masing menghasilkan 7,91 mm (p=0,408), 14,81 mm (p=0,066), dan 23,05 mm (p=0,022). Hanya konsentrasi 40% yang bermakna secara statistik (p<0,05). Dengan demikian, infusa jahe merah memiliki potensi antibakteri terhadap S. mutans, meski efektivitasnya masih lebih rendah dibanding ciprofloxacin.

Referensi

Astuti, Y., Lestari, R., & Nugroho, A. (2018). Gingerol sebagai senyawa antibakteri terhadap bakteri gram positif. Pharmaciana, 8(2), 217–225.

Azkiya, Z., Wahyudi, T., & Yulianti, D. (2017). Perbandingan kandungan minyak atsiri jahe merah (Zingiber officinale var. rubrum) dengan jahe lainnya. Jurnal Ilmiah Farmasi, 14(2), 101–108.

CLSI. (2019). Performance Standards for Antimicrobial Susceptibility Testing. Clinical and Laboratory Standards Institute.

Departemen Kesehatan RI. (2000). Parameter Standar Umum Ekstrak Tumbuhan Obat. Jakarta: Depkes RI.

Fejerskov, O., & Kidd, E. (2015). Dental Caries: The Disease and Its Clinical Management (3rd ed.). Wiley-Blackwell.

Gafur, A. & Rizki, D. (2021). Proses Pembuatan Simplisia dan Ekstrak Tanaman Obat. Jurnal Ilmiah Farmasi.

GBD 2016 Oral Disorders Collaborators. (2018). Global, regional, and national prevalence, incidence, and disability-adjusted life years for oral conditions for 195 countries, 1990–2016: A systematic analysis. Journal of Dental Research, 97(5), 501–510. https://doi.org/10.1177/0022034517750572

Hasanuddin, S. & Salnus, F. (2020). Mikrobiologi Dasar untuk Laboratorium. Makassar: Unhas Press.

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2018). Laporan Nasional RISKESDAS 2018. Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan.

Kementerian Kesehatan RI. (2017). Farmakope Herbal Indonesia Edisi II.

Kusuma, N. P., Astuti, R. P., & Wahyuni, D. (2019). Aktivitas antibakteri ekstrak jahe merah (Zingiber officinale var. rubrum) terhadap Streptococcus mutans. Jurnal Farmasi Sains dan Praktis, 5(1), 45–51.

Loesche, W. J. (1986). Role of Streptococcus mutans in human dental decay. Microbiological Reviews, 50(4), 353–380.

Madigan, M.T., Martinko, J.M., et al. (2012). Brock Biology of Microorganisms. Pearson Education.

Nur, M., Suryani, A., & Hidayat, T. (2022). Potensi antimikroba ekstrak jahe merah terhadap bakteri patogen mulut. Jurnal Penelitian Kesehatan, 11(1), 44–51.

Pelczar, M.J., Chan, E.C.S., & Krieg, N.R. (2001). Microbiology: Concepts and Applications.

Polakitan, S., Joseph, W., & Pangemanan, D. (2017). Peran Streptococcus mutans pada proses terjadinya karies gigi. Jurnal e-GiGi, 5(1), 45–50.

Putri, D. A., & Widodo, D. (2019). Efektivitas antibakteri ekstrak etanol jahe merah terhadap Streptococcus mutans. Majalah Kedokteran Gigi, 26(2), 57–62.

Rahmawati, F., Sari, K., & Pratiwi, R. (2021). Aktivitas antibakteri sediaan herbal berbasis jahe merah terhadap bakteri penyebab karies gigi. Jurnal Ilmu dan Teknologi Kesehatan, 9(3), 114–120.

Sari, R. (2021). Pemanfaatan jahe merah (Zingiber officinale var. rubrum) sebagai alternatif terapi herbal. Jurnal Kesehatan Tradisional, 16(1), 25–32.

Sujana, D. (2010). Aktivitas Antelmintik Infusa Batang Brotowali Segar [Tinospora crispa (L.) Miers, Menispermaceae] Pada Ascaris suum Secara In Vitro (Doctoral dissertation, Universitas Garut).

Sumarta, G., Dewi, M., & Putri, I. (2022). Infeksi rongga mulut sebagai faktor risiko penyakit sistemik. Jurnal Kesehatan Gigi Indonesia, 10(3), 112–118.

Wahyuningsih, T., Sari, N. M., & Lestari, A. (2020). Aktivitas antibakteri ekstrak jahe merah terhadap Streptococcus mutans. Jurnal Farmasi Indonesia, 15(1), 33–38.

WHO. (2011). Quality Control Methods for Medicinal Plant Materials. Geneva: World Health Organization.

Unduhan

Diterbitkan

2024-12-31

Cara Mengutip

Nugraha, Y. R., Rohdiana, A., Nurul, & Wardani, D. (2024). Pengaruh Infusa Jahe Merah (Zingiber officinale var. Rubrum) terhadap Pertumbuhan Bakteri Streptococcus mutans. Jurnal Medika Farmaka, 2(3), 298–304. https://doi.org/10.33482/jmedfarm.v2i3.74

Artikel paling banyak dibaca berdasarkan penulis yang sama