Gambaran Rasionalitas Pengobatan Antibiotik pada Pasien Poli Gigi berdasarkan Metode Gyssens di Rumah Sakit Intan Husada Garut
Kata Kunci:
Antibiotik, Generik, Metode Gyssens, Poli Gigi, RasionalitasAbstrak
Penggunaan antibiotik yang tidak rasional masih menjadi permasalahan serius dalam praktik kedokteran, termasuk kedokteran gigi. Antibiotik umumnya diresepkan untuk prosedur pembedahan, mengatasi infeksi, inflamasi akut, maupun pencegahan infeksi sistemik. Namun, praktik ini tidak selalu sesuai dengan pedoman klinis maupun prinsip rasionalitas. Penelitian ini bertujuan menggambarkan rasionalitas penggunaan antibiotik pada pasien poli gigi di RS Intan Husada Garut dengan metode Gyssens. Penelitian deskriptif kuantitatif ini menganalisis rekam medis pasien yang menerima antibiotik pada Desember 2024. Metode Gyssens mengelompokkan peresepan dari kategori 0 (rasional) hingga kategori VI (tidak dapat dievaluasi). Dari 58 pasien, tidak ada peresepan yang termasuk kategori 0 sehingga rasionalitas penggunaan antibiotik sebesar 0%. Mayoritas resep masuk kategori IVC (89,66%) karena tidak mempertimbangkan alternatif obat generik yang lebih murah tetapi sama efektifnya. Sisanya kategori IIIB (10,34%) disebabkan durasi penggunaan terlalu lama. Hasil ini menunjukkan bahwa ketidakterrasionalan terutama terkait efisiensi biaya, bukan aspek klinis. Studi sebelumnya menegaskan bahwa antibiotik generik, termasuk amoksisilin, memiliki efektivitas setara dengan obat bermerek. Oleh karena itu, diperlukan edukasi dan kebijakan yang mendorong penggunaan antibiotik generik untuk meningkatkan rasionalitas terapi di pelayanan kesehatan gigi
Referensi
Ahmadi, A., dkk. (2021). Antibiotik dan penggunaannya dalam praktik kedokteran gigi. Malang: UB Press.
Centers for Disease Control and Prevention. (2022). Antibiotic use and resistance. U.S. Department of Health & Human Services. https://www.cdc.gov/antibiotic-use
Katzung, B. G. (2019). Basic & clinical pharmacology (14th ed.). McGraw-Hill Education.
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2020). Laporan penggunaan antibiotik di Indonesia. Jakarta: Kemenkes RI.
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2021). Pedoman penggunaan antibiotik. Jakarta: Kemenkes RI.
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2022). Laporan surveilans resistensi antimikroba di Indonesia tahun 2021–2022. Jakarta: Direktorat Surveilans dan Karantina Kesehatan.
Monnet, D. L., Nguyen, T., Wulff, A., & Sørensen, T. L. (2023). Effectiveness of branded vs. generic antibiotics: A meta-analysis. Antibiotics, 12(2), 245. https://doi.org/10.3390/antibiotics12020245
Palmer, N. A. O., & Longman, L. P. (2020). Antimicrobial prescribing in dentistry: Good practice guidance. British Dental Journal, 229(8), 587–592. https://doi.org/10.1038/s41415-020-2254-6
Piovani, D., Clavenna, A., Cartabia, M., & Bonati, M. (2014). The comparative effectiveness and safety of branded vs. generic amoxicillin in children: A population-based study in Italy. Pediatric Drugs, 16(2), 137–144. https://doi.org/10.1007/s40272-014-0064-4
Ramasamy, R. (2014). Antibiotic prescribing practices in dentistry: A review. British Dental Journal, 217(9), 493–498. https://doi.org/10.1038/sj.bdj.2014.1005
Sholih, G., & Ahmad, M. (2015). Resistensi antibiotik dan tantangan penggunaannya di pelayanan kesehatan. Jakarta: EGC.
Sudjarwo, S. A. (2018). Rasionalitas penggunaan antibiotik dalam praktik klinis di Indonesia. Jurnal Farmasi Klinik Indonesia, 7(2), 85–92.
Taher, A. (2021). Farmakologi antibiotik dan prinsip penggunaan rasional. Jakarta: Sagung Seto.
World Health Organization. (2021). Global action plan on antimicrobial resistance. WHO Press.
Unduhan
Diterbitkan
Cara Mengutip
Terbitan
Bagian
Lisensi
Hak Cipta (c) 2025 Jurnal Medika Farmaka

Artikel ini berlisensi Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivatives 4.0 International License.








