Gambaran Peresepan Obat Pada Pasien Penderita Infeksi Saluran Pernapasan Akut Di Puskesmas Tarogong Kabupaten Garut
DOI:
https://doi.org/10.33482/jmedfarm.v2i1.33Kata Kunci:
ISPA, puskesmas, peresepanAbstrak
Pendahuluan: ISPA adalah penyebab utama morbiditas dan mortalitas penyakit menular di dunia. ISPA merupakan peradangan akut pada saluran pernapasan atas dan bawah yang disebabkan oleh infeksi mikroba, bakteri atau virus tanpa atau dengan parenkim paru. ISPA memiliki kelompok penyakit dengan angka absensi tertinggi dibandingkan kelompok penyakit lainnya dan banyak juga di derita oleh masyarakat. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui gambaran peresepan obat pada pasien penderita Infeksi Saluran Pernafasan Akut di Puskesmas Tarogong kabupaten Garut.Metode: Metode Penelitian ini bersifat deskriptif dengan pengambilan data secara retrosfektif pengambilan data dilakukan dengan teknik simple random sampling. Hasil: Hasil dari penelitian ini pasien penderita ISPA yang lebih banyak diderita oleh pasien perempuan dengan persentase 52,98% sebanyak 142 orang dan laki – laki dengan persentase 47,01% sebanyak 126 orang. Sampel data mengenai usia masa remaja akhir 17 – 25 tahun merupakan kasus terbanyak dengan persentase 22,38% sebanyak 60 orang. Berdasarkan penggolongan obat ISPA yang lebih banyak digunakan merupakan golongan antibiotik dengan persentase 29,77% sebanyak 268 orang, analgetik – antipiretik dengan persentase 27,44% sebanyak 247 orang, ekspektoran dengan persentase 20,33% sebanyak 183 orang, antihistamin dengan persentase 13,22% sebanyak 119 orang, kortikosteroid dengan persentase 8,22% sebanyak 74 orang, bronchodilator dengan persentase 1% sebanyak 9 orang. Berdasarkan jenis obat ISPA yang paling banyak digunakan adalah amoxicillin dengan persentase 71,26% sebanyak 191 orang, paracetamol dengan persentase 70,89% sebanyak 190 orang, chlorpheniramine maleat dengan persentase 36,94% sebanyak 99 orang. Kesimpulan. Dari data tersebut dapat disimpulkan masa dewasa akhir berjenis kelamin perempuan banyak menderita Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA), obat yang paling banyak digunakan adalah amoxicillin, paracetamol, chlorpheniramine maleat, glyceryl guaiacolate, salbutamol dan dexamethasone.
Referensi
Albrecht, H H., Peter V. Dicpinigaitis, and Eric P. Guenin. 2017. Role of guaifenesin in the management of chronic bronchitis and upper respiratory tract infections. US National Library of Medicine National Institutes of Health. USA.
Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan. 2018. Laporan Nasional Riskesdas 2018.Jakarta: Kementerian Kesehatan RI.
Depkes RI, 2006. Pedoman Penyelenggaraan dan Prosedur Rekam Medis Rumah Sakit di Indonesia. Jakarta : Depkes RI.
Kiran Mayuresh., Lalit Pawaskar and Shruthi George. (2017). Efficacy And Safety For A Combination Of Paracetamol, Chlorpheniramine Maleate, Phenylephrine, Sodium Citrate And Menthol In The Symptomatic Treatment Of Common Cold And Allergic Rhinitis: Phase Iv Clinical STUDY. International Journal of Current Medical and Pharmaceutical Research.
Kurniawan H, (2017). Kajian Pola Peresepan Obat Infeksi Saluran Pernafasan Akut di Puskesmas Bah Kapul Kota Pematangsiantar Tahun 2017. Tunas-Tunas Riset Kesehatan, Volume 7 Nomor Khusus Hari Ibu, Desember 2017.
Maakh Yorida Febry, Ivonne Laning, Rambu Tattu. (2017). Profil Pengobatan Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) Pada Balita Di Puskesmas. Rambangaru Tahun 2015. Jurnal Info Kesehatan. Farmasi, Poltekkes Kemenkes Kupang.
Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 43 Tahun 2019 Tentang Pusat Kesehatan Masyarakat. Jakarta : Menteri Kesehatan Republik Indonesia,
Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 72 Tahun 2016 Tentang Standar Pelayanan Kefarmasian Di Rumah Sakit . Jakarta : Menteri Kesehatan Republik Indonesia,
Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 74 Tahun 2016 Tentang Standar Pelayanan Kefarmasian Di Puskesmas. Jakarta : Menteri Kesehatan Republik Indonesia,
Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 82 tahun 2014 Tentang Penanggulangan Penyakit Menular. Jakarta : Menteri Kesehatan Republik Indonesia.
Putra, Y & Wulandari, S.S. 2019. Faktor Penyebab Kejadian Ispa. Jurnal Kesehatan : Stikes Prima Nusantara Bukittinggi - VOL. 10 NO. 01 (2019) 37-40.
Ranantha, R., Eni Mahawati., Krishwiharsi Kun., (2012). Hubungan Antara Karakteristik Balita dengan Kejadian ISPA Pada Balita di Desa Gandon Kecamatan Kaloran Kabupaten Temanggung. Karya Tulis Ilmiah. Fakultas Kesehatan Masyarakat .Universitas Dian Nuswantoro. Semarang
Undang Undang Nomor 36 Tahun 2009. Tentang Kesehatan
World Health Organization (WHO) tahun 2020. Pusat Pengobatan ISPA Berat
Yuliani, R. G., Lestari, F., & Suwendar, S. (2019). Kajian Penggunaan Obat Infeksi Saluran Pernapasan Atas (ISPA) pada Pasien Pediatri di Puskesmas Gununghalu Kabupaten Bandung Barat. Prosiding Farmasi, 418-425.








